News

Prabowo Minta Hunian Sementara di Aceh Lebih Sejuk dan Nyaman

Aceh Tamiang (KABARIN) - Presiden Prabowo Subianto memberi masukan soal kenyamanan hunian sementara yang dibangun Danantara di Aceh Tamiang. Ia mengusulkan agar bagian atap diberi lapisan tambahan supaya suhu di dalam rumah tidak terasa panas.

Masukan itu disampaikan Prabowo usai meninjau langsung lokasi pembangunan dan dilanjutkan dalam rapat terbatas di Aceh Tamiang pada Kamis.

“Saya koreksi sedikit, saya tanya bagaimana ini ya kan saya yang panas, coba dipikirkan kalau bisa kita kasih apa solusi, mungkin solusinya tidak usah mahal-mahal, solusinya mungkin dari bahan-bahan lokal. Apa itu anyaman atau apa ya kan, dari ijuk atau dari apa dilapisi di bawahnya seng,” kata Presiden.

Prabowo mengapresiasi langkah Danantara yang mampu membangun 600 unit hunian hanya dalam waktu delapan hari. Menurutnya, kualitas bangunan tersebut sudah cukup baik untuk ukuran hunian sementara.

Meski begitu, ia menyoroti penggunaan atap seng yang berpotensi membuat ruangan menjadi panas, terutama di siang hari. Prabowo menilai solusi sederhana seperti menambahkan lapisan di bawah seng bisa meningkatkan kenyamanan para penghuni.

Ia menyarankan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang mudah didapat dan tidak membutuhkan biaya besar, seperti anyaman, ijuk, atau bahan tekstil sederhana. Soal bentuk dan penerapannya, Prabowo menyerahkan sepenuhnya kepada kreativitas tim di lapangan.

“Mungkin cukup dengan dengan bahan, bahan tekstil ditutup di bawahnya seng itu, jadi hal-hal semacam itu, itu nanti kreativitas daripada orang-orang lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, CEO Danantara Rosan Roeslani menyampaikan bahwa 600 unit hunian di Aceh Tamiang dijadwalkan diserahterimakan kepada pemerintah daerah pada 8 Januari. Penyerahan tersebut juga mencakup fasilitas pendukung seperti taman bermain, jaringan WiFi, musala, 14 dapur umum, serta 120 toilet dan kamar mandi.

Rosan menambahkan, dalam tiga bulan ke depan Danantara menargetkan pembangunan total 15.000 unit hunian di tiga provinsi. Rinciannya sekitar 12.000 unit di Aceh, sekitar 2.000 unit di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, serta 500 unit di Sumatera Barat.

“Aceh kurang lebih 12.000 unit, kemudian ada di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah itu kurang lebih 2.000 unit, dan Sumatera Barat 500 unit,” kata Rosan.

Hunian tersebut dibangun di atas lahan milik PTPN yang telah melalui proses pembersihan. Setiap unit memiliki ukuran sekitar 4,5 meter kali 4,5 meter atau sekitar 22 meter persegi.

“Dan dalam hal ini kita juga akan, sesudah menyerahkan juga untuk hunian tetapnya yang sebetulnya hanya di seberang dari sini Bapak Presiden, seluas 3 hektare. Jadi di hunian yang kami bangun ini luasnya 5,8 hektare yang dapat diperluas sampai mencapai 13 hektare,” ujarnya.

Dalam pengerjaannya, Danantara melibatkan 1.635 pekerja yang bekerja selama 24 jam penuh. Para pekerja berasal dari sejumlah BUMN karya seperti Hutama Karya, Waskita Karya, Wijaya Karya, PP, Nindya Karya, dan Adhi Karya.

Rosan juga menyebutkan anggaran pembangunan berasal dari dana tanggung jawab sosial perusahaan BUMN dengan total sekitar Rp1 triliun. Hingga kini, dana yang sudah terealisasi mencapai sekitar Rp655 miliar.

Danantara menargetkan pembangunan hunian dipercepat agar memenuhi standar layak huni. Rosan menegaskan pihaknya siap menyesuaikan sistem yang berlaku di Aceh, termasuk penerapan prinsip syariah, serta terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan BNPB.

“Kami di Danantara tentunya siap untuk bisa berpartisipasi secara lebih besar lagi dengan menganut sistem yang berada di Aceh, sistem syariah, sehingga ini juga sesuai dengan arah dan petunjuk dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan juga BNPB,” pungkasnya.

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: